
Diriwakan oleh dua Imam ahli hadits: Abu Abdillah bin Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al-Mighirah bin Bardizbah Al Ju'fi Al-Bukhari dan Abul Husai Muslim bin Hajjaj bin Muslim Al-Qusyairy Annaysabuury dalam kedua kitab shahihnya, yang keduanya kitab yang paling shahih di antara kitab-kitab lainnya.
Faedah yang dapat diambul dari hadits di atas adalah :
1. Niat merupakan suatu keharusan dalam suatu perbuatan, baik itu yang di tunjukan pada perbuatan itu sendiri, seperti shalat misalnya, maupun suatu yang menjadi sarana bagi perbuatan lainnya, misalnya thaharah (bersuci). Yang demikian, karena ikhlash itu tidak tergambar wujudnya tanpa adanya niat.
2. Niat itu tempatnya di dalam hati dan tidak perlu di lafazhkan dengan lisan. Yang demikian itu sudah menjadi kesepakatan para ulama, dalam semua ibadah, thaharah, shalat, zakat, puasa, haji, pemerdekaan budak, jihad, dan ibadah-ibdah lainnya. Sdangkan melafazhkan niat dengan lisan merupakan perbuatan yang menambah-nambah . Dan sungguh telah keliru orang yang beranggapan bahwa melafazhkn niat dibolehkan untuk ibadah haji,sedangkan yang lainnya tidak dibolehkan. Kekeliruan ini disebabkan karena dia tidak dapat membedakan antara "Talbyah" dan "Niat".
Mengenai hukum niat ini, Syaiikhul Islam Ibnu Taymiyyah telah menjelaskannya secara panjang lebar dalam sebuah risalah tersendiri.
3. Amal-amal Shalih harus disertai dengan niat-niat yang baik, niat yang baik tidak akan merubah kemungkarn menjadi kebaikan, dan bid'ah menjadi sunnah. Banyak orang mengharap kebaikan tapi tidak pernah menggapainya.
4. Ikhlas kepada Allah merupakan syarat diterimanya suatu amal perbuatan. Sebab, Allah 'Azza wa jalla tidak akan menerima amal perbuatan kecuali yang paling tulus dan benar. Yang paling tulus adalah amal yang dilakukan karena Allah, dan yang paling benar adalah yang sesuai dengan sunnah Rasulullah Shallallahu 'Alaihu wa sallam yang shahih.
>diringkas dari ktab Bajatunnazhiriin, syarh Riyadusshalilhiin, Syaikh Saleem 'Ied Al Hilaly
Baca Selengkapnya..
2. Niat itu tempatnya di dalam hati dan tidak perlu di lafazhkan dengan lisan. Yang demikian itu sudah menjadi kesepakatan para ulama, dalam semua ibadah, thaharah, shalat, zakat, puasa, haji, pemerdekaan budak, jihad, dan ibadah-ibdah lainnya. Sdangkan melafazhkan niat dengan lisan merupakan perbuatan yang menambah-nambah . Dan sungguh telah keliru orang yang beranggapan bahwa melafazhkn niat dibolehkan untuk ibadah haji,sedangkan yang lainnya tidak dibolehkan. Kekeliruan ini disebabkan karena dia tidak dapat membedakan antara "Talbyah" dan "Niat".
Mengenai hukum niat ini, Syaiikhul Islam Ibnu Taymiyyah telah menjelaskannya secara panjang lebar dalam sebuah risalah tersendiri.
3. Amal-amal Shalih harus disertai dengan niat-niat yang baik, niat yang baik tidak akan merubah kemungkarn menjadi kebaikan, dan bid'ah menjadi sunnah. Banyak orang mengharap kebaikan tapi tidak pernah menggapainya.
4. Ikhlas kepada Allah merupakan syarat diterimanya suatu amal perbuatan. Sebab, Allah 'Azza wa jalla tidak akan menerima amal perbuatan kecuali yang paling tulus dan benar. Yang paling tulus adalah amal yang dilakukan karena Allah, dan yang paling benar adalah yang sesuai dengan sunnah Rasulullah Shallallahu 'Alaihu wa sallam yang shahih.
>diringkas dari ktab Bajatunnazhiriin, syarh Riyadusshalilhiin, Syaikh Saleem 'Ied Al Hilaly